Sejak Aku Tahu Apa Itu Penantian

shares |

Senja kian temaram, saat aku terpaku menatap bintang yang mulai bermunculan di langit yang beranjak malam. Kau? Ya kau. Seseorang yang telah mematut hatiku. Membuat skala richter perasaanku turun naik. Kau yang mampu mengguncang hatiku setiap mendengar namamu (yang tak kutahu siapa).

Sejak Aku Tahu Apa Itu Penantian
Kau mungkin tak tahu betapa uring-uringannya diriku ketika ku rindu. Ya, rindu. Sejak bertahun-tahun aku menahan rasaku ini untukmu. Kuusahakan tiada yang mampu menyelos setiap rongga perasaanku untukmu. Aku hebat kan?

Rindu? Sejak kapan aku mengenal apa itu rindu? Ohiya, sejak aku tahu apa itu penantian. Tak akan rindu itu hadir jika tidak ada penantian. Penantian yang lama dan setiap orang berusaha menjaganya untuk seseorang. Beda denganku, aku memang sedang menanti seseorang, sesekali menatap langit “Mungkinkah ia sedang menatap langit sepertiku?”. Nihil, tiada jawaban yang dapat memuaskanku.

Kau tahu bagaimana rasanya menanti seseorang yang kau tidak tahu sama sekali? Itu rasanya seperti menanti pengumuman pemenang undian yang hadiahnya tidak tahu sama sekali. Greget. Ingin bilang rindu, pada siapa? Ingin bilang cinta, pada siapa?Ingin menatap wajahnya, siapa pula? Lagi-lagi aku memasung pilu. Bagai pungguk merindukan bulan. Mungkin belum saatnya, mungkin belum sekarang.

Sesekali aku merasa dekat dengannya. Bahkan dekat sekali. Juga pernah aku merasa dirinya amat jauh, bahkan aku merasa akan bertemu pada dimensi lain kehidupan. Ah, rasanya ingin cepat bertemu saja.

***

“Aku tak pernah tahu siapa dirimu, bahkan seperti apa rupamu.
Untuk memikirkannya saja aku khawatir, khawatir rindu ini semakin dalam. Aku bukanlah seseorang yang sempurna, tapi aku ingin penantianku ini menjadi sempurna dengan kehadiranmu. Tapi kehadiranmu yang entah kapan, membuatku semakin memendam rindu itu.

Ya, kau itu rahasia. Yang pasti hadirlah ketika Allah sudah menguatkan hatimu. Jangan menebar cinta pada yang lain, karena aku cemburu. Disini aku mati-matian menjaga diri, tapi kamu kok tidak. Jaga iman dan Islammu ya, siapkan bekal dengan baik, dan menjadi guru dan pemimpin terbaik untukku dan kerajaan kecil kita nanti.”
[ Ayu Lindasari ]

Related Posts