Aku dan kamu akan kah menjadi kita?

shares |

Temaram malam merayap dengan senyap. Menyisakan kilau bintang yg memancar. Dulu, kau hadir menjelma rembulan di langit sana. Menuaikan rindu yang tak henti memburu. Kini, cahaya rembulan itu redup dipelupuk ku. Seakan mataku merabun tuk melihatmu.



Kau hadir tanpa ku minta, kau ada tanpa ku sangka.
Memang aku telah lama mengenalmu, mengenal namamu dan sendu matamu. Namun, siapa sangka kau hadir begitu saja, dengan rona wajah yang sumringah. "Hai, namamu Ristia ya? Aku Fahmi". Dengan menelungkupkan kedua tangannya. Aku hanya mengernyitkan alisku serata berkata. "Iya say risti. Afwan, ada keperluan apa ya?. itu yang saya tanyakan.



Berawal dari perkenalan itu awalnya ku mulai risih dengan chat dan sms yang sering dia berikan padaku. Ya, meski isinya biasa biasa saja namun ternyata dia berbeda dia mampu bertahan denga keacuhanku.

Hari berubah minggu bulan berubah tahun. Iya tak terasa sudah hampir 1 tahun ku dekat nya meski hanya sms atau chat sekedarnya dari sanalah ku dapati ternyata banyak hal kesamaan yang kita punya.

Dari kesamaan suka matkul ataupun satu eskul. Kau, mulai dekat denganku dengan keseharianku. Membisiki kata semangat ketika tahu ku mulai melemah. Kau, hadir di hatiku begitu saja. Tanpa ku merasa curiga



Wanita memang rapuh, itu yang slalu ku dengar. Namun meski seperti itu aku tak pernah perduli dengan statement itu. Aku tak pernah mudah untuk jatuh hati pada seorang pria. Namun, ternyata aku salah. Kau meluluh lantahkan segala benteng pertahanan yang selama ini ku bentangkan.

Aku dan kamu akan kah menjadi kita? Itu yang terbersit di benakku. Akhirnya aku tahu sekarang jawabnya.

Setelah kelulusan aku mendapat kabar kau telah melanjutkan mastermu di negeri Jiran sana menggapai mimpi mimpi yang telah lama bersemi di hati. Mimpi yang dulu kita bangun bersama. Iya aku ingin ke Turki kataku melanjuti sekolahku disana dan kau slalu berkata kau ingin ke negeri pemilik menara kembar.


Aku berbahagia, ketika mendapati akhirnya kau mampu membuktikan itu.

Penulis : Euis R. S.

Related Posts